|
Gang Jawa, dari Hutan menjadi Desa |
|
|
|
|
Written by Muri FOKER PDR
|
|
Wednesday, 30 September 2009 10:25 |
|
Idealanya, sebutan gang dalam bahasa pengelompokan jalan berarti jenis jalan yang paling kecil yang tak dapat dilintasi mobil. Gang kebanyakan memang tidak dapat dilalui mobil, tapi tidak untuk Gang Jawa. Jalan di gang yang satu ini bisa dilalui mobil jenis apapun. Bagaimana bisa? Karena Gang Jawa bukanlah nama jalan kebanyakan, melainkan nama sebuah desa di Kecamatan Hinai, Kabupaten Langkat (?) Lho Koq?
Cerita ke arah sana cukup panjang. Ini berawal dari sebuah hutan. “Dahulu di siang hari yang lumayan cukup terik, saya sedang menggali sumur. Karena dahulu tidak ada listrik, jadi kami menggunakan sumur tanah. Dan pada saat saya sedang beristirahat sambil duduk santai di bawah sebuah pohon, tapi tiba-tiba saya terpikir sebuah nama Gang Jawa,” kata Tugiman atau Giman (52 tahun), orang yang pertama kali menemukan desa ini. Cerita lain mengapa disebut Gang Jawa lantaran pada saat itu yang tinggal di daerah itu hanya Suku Jawa. ”Lagipula kami tinggal di sebuah gang. Nah sepertinya nama itu pas. Lagipula saat itu desa ini belum ada nama. Alhamndullillah nama ini diterima cukup baik oleh warga desa ini,“ kata suami dari Sutini (51 tahun), ini. |
|
Read more...
|
|
Membidik Peluang Usaha Jagung Muda |
|
|
|
|
Written by Supadi SPd FOKER Pujangga
|
|
Wednesday, 30 September 2009 10:16 |
|
Jagung muda banyak disukai karena rasanya yang manis, apalagi saat tersaji dalam hidangan sayur asam atau beningan. Berdasarkan penelitian, mengonsumsi sayur jagung muda memperkecil kemungkinan terkena penyakit ginjal, batu empedu, darah tinggi, jerawat, dan khasiat lainnya.
Selain enak dimakan sebagai sayuran dan obat-obatan, jagung muda juga bisa dimanfaatkan sebagai lahan bisnis yang menggiurkan. Peluang itu cukup besar mengingat kebutuhan jagung, baik untuk dalam negeri maupun ekspor, masih sangat besar sampai tahun 2010. Peluang usaha yang juga mendukung ketahanan pangan nasional ini sangat prospektif karena didukung ketersediaan lahan kering yang luas dan teknologi yang siap diterapkan. Berdasarkan hitungan-hitungan, laba yang diperoleh bisa beberapa kali lipat dari modal yang tertanam. |
|
Last Updated on Wednesday, 30 September 2009 10:21 |
|
Read more...
|
|
|
Kampung Marlintung, Keswadayaan yang Tak Bersambut |
|
|
|
|
Written by Suparman SPd FOKER Pentum
|
|
Wednesday, 30 September 2009 10:34 |
|
Hamparan sawah dihiasi kilau kuning keemasan padi membentang luas di Kampung Marlintung Desa Karang Anyar, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat. Di bagian selatan membentang daratan yang menghijau dan warna-warni rumah penduduk. Tampak di tengah desa sebuah tanah lapang, kantor kepala desa, SMP Negeri 2 dan Masjid Al-Mukhlisin.
Marlintung adalah sebuah desa yang subur dan terkenal karena banyak putra-putri daerah ini yang sudah berhasil, baik di luar daerah ataupun di kawasannya sendiri. Tapi tahukah kita semua bahwa Kampung Marlintung mempunyai cerita sejarah yang panjang dan unik? Dahulu Kampung Marlintung terdiri dari 2 blok. Bagian selatan adalah kebun tembakau peninggalan Belanda. Sedangkan bagian utara adalah hutan muda dengan tumbuhan rotan air (Banjar : rutan Pangkat), jarung, ilalang, kayu kalat. Nama Marlintung awalnya diambil dari nama pohon kayu Marlintung. Pohon ini dapat tumbuh besar dengan warna kayu putih dan bertipe keras dengan bentuk daun bulat memanjang dan kasar. Bentuk daunnya seperti daun mahoni tetapi besar seperti daun mangga. Tekstur dan warna daunnya seperti pohon jati. |
|
Read more...
|
|
Kampung Tani Belas Kasih Alam |
|
|
|
|
Written by Fitri Saputri FOKER Paskambet
|
|
Wednesday, 30 September 2009 10:11 |
|
Apa yang terkenal dari Desa Hinai Kiri, Kampung Lama (Kampung Penunggu) Kec. Secanggang, Kabupaten Langkat sejak dirintis pada tahun 1960? Jawabnya adalah pertanian. Inilah cerita sebuah desa dimana segala potensi pertanian terdapat di dalamnya.
Para pendahulu, termasuk orang-orang Melayu, sudah gemar bercocok tanam di ladang. Tanamannya adalah kopi, rambung (karet), manggis, mangga, langsat, rambe, asam suntiu, asam glugur, aren, rumbia, bambo, bamban, pinang, rambutan dan kelapa. Aren diambil niranya dibuat menjadi gula merah. Sementara rumbia, bamban, bambo, pinang dijadikan atap. Itulah para pendahulu yang sudah mengambil hasil panen. Pada tahun 1968, para pendahulu bekerja mengambil upahan pada orang-orang Melayu di Kampung Lama, menyiang (membabat) hutan semak belukar sampai pada akhirnya mendapat bagian lahan. Lahan yang diperoleh pekerja ditanami padi, arias darat, kacang kedelai, ubi kayu dan kelapa sampai berhasil. |
|
Last Updated on Wednesday, 30 September 2009 10:32 |
|
Read more...
|
|