|
Kartini dan Tengkulak Nasionalisme |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Monday, 20 April 2009 04:48 |
|
Raden Ajeng Kartini di Jepara jangan-jangan tak mengenal Cut Nyak Dien sebaik dia mengenal Booij-Boissevain, Van Zeggelen, atau Estelle Zeehandellar; sahabat pena tempatnya bercerita tentang diskriminasi yang dialami perempuan Jawa.
Andaipun Kartini berkirim surat kepada Cut Nyak Dien, pastilah sulit berbalas. Sebab, saat putri ningrat ini baru menikmati dihapusnya tradisi pingit (1900) atas perintah Ratu Wilhemina, Cut Nyak Dien sudah menggantikan Teuku Umar, suaminya, memimpin gerilya di belantara Aceh. Dia bahkan sudah dua kali menjanda, jauh sebelum Kartini dipaksa kawin dengan Bupati Rembang.
Entah apa yang membuat Kartini tak menulis surat ke perempuan-perempuan pejuang di tanah air seperti halnya kepada nonik-nonik Belanda terdidik. Padahal, Pati Unus yang sama-sama asal Jepara pernah bertempur bersama kerajaan nusantara lain, menghadang Portugis di Malaka (1513).
|
|
Last Updated on Friday, 24 July 2009 07:19 |
|
Read more...
|
|
|
Harkitnas, Momentum yang Diselewengkan? |
|
|
|
|
Written by Eti Wahyuni
|
|
Wednesday, 01 April 2009 03:00 |
|
Bangkit adalah takut, takut melakukan korupsi, takut memakan yang bukan haknya. Demikian penggalan kata-kata yang dicetuskan bintang film Deddy Mizwar di iklan dalam rangka 100 Tahun Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas).
TIDAK seperti tahun-tahun sebelumnya, Harkitnas pada tahun ini diperingati secara mewah. Melalui media televisi iklannya ditayangkan. Momentum ini pun dijadikan para politisi menebar popularitas. Cukup beralasan. Pasalnya, momentum kebangkitan nasional itu telah berlangsung selama seratus tahun atau satu abad. Momentum yang selama ini kita yakini sebagai titik awal kebangkitan untuk menuju sebuah pembebasan atas penjajahan Belanda. Tetapi benarkah demikian? |
|
Last Updated on Thursday, 23 July 2009 06:43 |
|
Read more...
|
|
Ritual Tabur Benih Perjamuan Yang Mentradisi |
|
|
|
|
Written by Eti Wahyuni
|
|
Saturday, 28 March 2009 04:24 |
Untaian doa-doa memecah keheningan pagi itu. Di teras sebuah mesjid sederhana, puluhan orang, lelaki dan perempuan terpekur, mengamini setiap pengharapan yang dilontarkan dari bibir pemimpin doa. Mereka duduk melingkar, sedangkan di bagian tengahnya bertumpuk benih padi dalam kantong-kantong plastik kecil. Dilengkapi pula dengan mangkok plastik berisi air dan beragam jenis bunga.
Di samping bangunan mesjid, hamparan sawah membentang. Sedangkan di bagian depannya paluh mengalirkan airnya yang kecoklatan, semakin tinggi seiring dengan datangnya waktu pasang laut. Ada jembatan batu yang cukup kokoh. Di sudutnya terlihat takir (daun pisang yang dibentuk segiempat dan berisi aneka macam bumbu dapur) dan serakan arang bekas pembakaran dupa (kemenyan).
Pagi itu, memang sedang digelar upacara tepung tawar - sebagian menyebutnya acara perjamuan. Sebuah perayaan yang rutin digelar setiap memasuki masa tanam. Sebelum menaburkan benih, digelar serangakain ritual memohon keberkatan Tuhan Yang Maha Pemberi Rezeki, agar penanaman padi bisa berjalan lancar dan mendapat hasil yang serta diberkati.
|
|
Last Updated on Monday, 30 March 2009 02:48 |
|
Read more...
|
|
|
Sepenggal Ponorogo di Sudut Langkat |
|
|
|
|
Written by Eti Wahyuni
|
|
Tuesday, 10 March 2009 04:09 |
|
Suara riuh mengawali pertunjukan Reog Singa Barong Paskambet. Kesenian tradisional ini sengaja ditampilkan untuk menyambut rombongan tamu yang terdiri dari puluhan fans radio Mitra FM, sebuah radio komunitas di Kecamatan Hamparan Perak, Deliserdang. Tanpa sengaja, sejumlah hadirin yang rupanya memiliki kedekatan emosional dengan musik asal Ponorogo ini ikut menggoyangkan badan. Bahkan, seorang tamu yang usianya mencapai 80 an tahun – yang ternyata mantan pemain reog, ikut nimbrung bersama kelompok pemusik dan berteriak-teriak menyemangati para penari jatilan. Jatilan merupakan pembuka pagelaran Reog. Ada dua perempuan muda usia belasan dengan pakaian tradisional menari jatilan. Secara keseluruhan tampilan tarian jatilan ini hampir sama dengan tarian dalam kuda kepang, baik peralatan yang menggunakan kuda buatan terbuat dari anyaman bambu dan kostumnya. Bedanya, dalam pertunjukan reog ini, pemusik ikut riuh menyemangati para penari. Sesekali penabuh gendang berteriak agar penari lebih bersemangat menggoyangkan tubuh. |
|
Last Updated on Thursday, 23 July 2009 12:56 |
|
Read more...
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 01 April 2009 04:40 |
|
"Yamin dituding menyembunyikan sebagian naskah sidang BPUPKI. Misteri sejarah kita." SEBUAH pertemuan kecil digelar di Istana Negara. Hari itu, 29 Mei 1995, Menteri-Sekretaris Negara Moerdiono bersama satu tim kecil penyusun buku datang menghadap Presiden Soeharto. Di antara rombongan ada sejarawan Taufik Abdullah, A.B. Kusuma, dan Nannie Hudawati. ”Tim buku” itu dipimpin Syafroedin Bahar, pejabat Sekretariat Negara yang belakangan pernah menjadi anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Mereka datang untuk menyerahkan sebuah buku yang selama 50 tahun—bahkan hingga kini—belum lengkap, yakni Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan terbitan Sekretariat Negara, edisi ketiga. Buku tersebut merevisi buku karya Mohammad Yamin yang terbit pada 1959, Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945, jilid I. ”Buku itu edisi terakhir yang paling lengkap, meski belum sempurna,” kata Taufik Abdullah. |
|
Last Updated on Thursday, 23 July 2009 06:42 |
|
Read more...
|
|
|
|
|
|
|
Page 6 of 10 |