|
Perayaan Divestasi Yang Memalukan |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Tuesday, 07 April 2009 04:00 |
|
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro menggelar jumpa pers Rabu 1 April 2009, sekaligus merayakan kemenangan Pemerintah RI atas arbitrase internasional dalam kasus divestasi saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT). Putusan pengadilan arbitrase ini memperlambat proses divestasi hingga 6 bulan lagi, yang harusnya dilakukan sejak 2006 lalu. Sungguh, perayaan ini bagai mencoreng muka sendiri. Pemerintah memperkarakan PT NNT ke ke arbitrase Internasional, setelah menjatuhkan status de-fault (lalai) kepada Newmont, 11 Februari 2008, karena melanggar Kontrak Karya. Harusnya perusahaan mendivestasikan sahamnya, 3% tahun 2006, 7% tahun 2007 dan 7% tahun 2008, dan total mencapai 51% tahun depan. Hasil sidang diputuskan akhir bulan lalu, 31 Maret 2009, perusahaan emas asing ini harus mendivestasikan 17% sahamnya pada pemerintah Indonesia dalam keadaan bersih dari gadai dalam tempo 180 hari, terhitung sejak diputuskan. Dan, dalam konferensi pers kemaren, Mentri ESDM menyebut kata “kemenangan” berulang-ulang, seolah suatu hal yang patut dibanggakan. Tidaklah pada tempatnya menyatakan putusan arbitrase ini sebagai sebuah kemenangan. |
|
Last Updated on Thursday, 23 July 2009 06:57 |
|
Read more...
|
|
|
Mahalnya Menabung di Bank |
|
|
|
|
Written by Eti Wahyuni
|
|
Friday, 03 April 2009 03:23 |
|
Sebut saja Een (31), nasabah BRI mengeluh. Tabungannya berkurang terus. Bahkan wanita ini sempat menyampaikan protesnya ketika teller BRI Sei Rempah meminta biaya administrasi sebesar Rp 5.000 ketika ia melakukan penarikan tunai Rp 500.000. Teller tadi beralasan, biaya ini terdiri dari biaya penarikan tunai melalui bank sebesar Rp 3.000 dan biaya penarikan tunai antara cabang Rp 2.000. Ketika Een membantah dengan mengatakan sudah dikenakan biaya administrasi rutin bulanan, teller tadi dengan enteng menjawab, "begitulah aturannya,". Ada sedikit yang aneh. Dalam buku tabungan, ada 10 sandi transaksi dari mulai bunga deposito hingga pajak. Tidak ada satupun menyebutkan adanya biaya penarikan antar cabang. Teller pun meminta uang tunai dengan alasan tidak bisa dipotong dari dana tabungan. Sementara untuk biaya penarikan tunai melalui bank di bawah nilai Rp 2 juta dikenakan biaya sebesar Rp 3.000 juga tidak ada sandi transaksinya. Sosialisasi pengenaan biaya ini hanya diumumkan melalui spanduk di bank-bank BRI, itu pun tidak semua bank memasang spanduk. Di beberapa bank, pemberitahuan hanya dilakukan ketika nasabah melakukan transaksi. Lain lagi keluhan Andi (37). Saldonya sebesar Rp 1 juta di sebuah bank swasta terkemuka akhirnya hangus karena dipotong biaya administrasi bulanan sebesar Rp 10.000. Karena tidak menyetor akhirnya tabungannya ini berkurang sedikit demi sedikit dan habis sama sekali. Sisa saldo hanya bisa diambil kalau menutup rekening, karena saldo yang tersisa tidak mencukupi untuk melakukan penarikan tunia melalui ATM. |
|
Last Updated on Thursday, 23 July 2009 06:41 |
|
Read more...
|
|
Written by Administrator
|
|
Monday, 20 April 2009 04:25 |
Nama latinnya Carica papaya. Masyarakat Indonesia mengenalnya dengan nama pepaya. Buah ini tersohor sebagai tanaman obat di berbagai belahan dunia. Khasiatnya bisa dipetik dari hampir seluruh bagian tanaman, namun buahnyalah yang paling sering digunakan karena mudah didapat dan lezat. Seandainya Anda jarang memakan pepaya. Maka untuk Andalah artikel ini dibuat agar Anda tergerak untuk mencicipi dan menyukainya.
|
|
Last Updated on Thursday, 23 July 2009 06:57 |
|
Read more...
|
|
|
Kesenian Wayang di Sumut Mulai Dipinggirkan |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Friday, 03 April 2009 04:03 |
Medan, Antara Sumut - Wayang yang dikenal sebagai salah satu jenis kesenian etnis Jawa, kini mulai dipinggirkan di Sumut. Kesan ini terlihat ketika Sabtu malam yang baru lalu digelar pertunjukkan wayang di salah satu rumah di Marelan, Medan, sehubungan dengan hajatan perkawinan. Berbeda dengan pesta perhelatan di tempat-tempat lain yang lazimnya menggelar musik keyboard tunggal dengan biduan dang-dut atau lagu-lagu pop, keluarga Margono yang “punya gawe”, justru menghibur tamunya dengan wayang kulit dengan lakon “Arjuna Wiwaha”. Nonton wayang di Medan dewasa ini sudah merupakan hal yang langka, walau pun para penggemarnya cukup lumayan, terutama etnis Jawa yang bermukim di kawasan pinggiran kota. Sampai menjelang tengah malam, banyak penonton yang masih memadati tempat pertunjukkan, kendati pun dinginnya angin malam sudah terasa. |
|
Last Updated on Thursday, 23 July 2009 07:03 |
|
Read more...
|
|
Pemerintah Indonesia Dinilai Belum Serius Kurangi Emisi |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Friday, 03 April 2009 03:53 |
|
Jakarta, Greenpress- Organisasi pecinta lingkungan Greenpeace menilai pemerintah tidak sungguh-sungguh berupaya mengurangi emisi gas rumah kaca hasil deforestasi dan degradasi hutan. "Kebijakan dalam negeri Indonesia sangat jauh dari apa yang dijanjikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada internasional," Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara Bustar Maitar di Jakarta, Rabu seperti dilansir Antara. Pemerintah Indonesia sebenarnya bisa berupaya mengurangi emisi gas rumah kaca dengan melindungi hutan gambut yang kaya karbon namun ini pun tidak dilakukan, lanjutnya. Sebaliknya, Departemen Pertanian malah mengeluarkan kebijakan baru yang memungkinkan pembukaan lahan gambut untuk penanaman kelapa sawit meski memang disertai catatan tidak boleh dilakukan pada lahan gambut bertebal tiga meter. |
|
Last Updated on Thursday, 23 July 2009 07:03 |
|
Read more...
|
|
|
|
|
|
|
Page 7 of 10 |