|
WOC dan CTI Menenggelamkan Perkara Perubahan Iklim |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Tuesday, 07 April 2009 03:45 |
|
Siaran Pers KIARA - WALHI - JATAM - Institut Hijau Indonesia - COMMIT - KAU, 3 April 2009.
Inisiatif Pemerintah Indonesia menyelenggarakan WOC (World Ocean Conference) dan CTI (Coral Triangle Initiative) pada tanggal 11-15 Mei di Manado, Sulawesi Utara, amat terkesan melindungi kepentingan negara-negara dan lembaga donor. Persoalan pokok lautan yang menjadi muara sedimentasi dan limbah industri, ‘surga’ bagi pencurian ikan oleh kapal-kapal asing, meluasnya degradasi ekosistem pesisir akibat industrialisasi pertambakan udang dan reklamasi pantai, serta dampak perubahan iklim yang kian terasa, terpinggir oleh hasrat ekonomis sesaat. Inilah awal keraguan WOC dan CTI mampu menyelesaikan substansi persoalan kelautan dunia.
Dalam 15 tahun terakhir, setidaknya 10 negara menjadi aktor utama praktek kejahatan perikanan di perairan Indonesia. Maraknya kejahatan perikanan ini akan berdampak pada ketidakberlanjutan sumber daya ikan. Bahkan, bisa berujung pada krisis.
Di samping itu, perairan Indonesia juga menjadi ‘ladang subur’ bagi pembuangan limbah beracun industri tambang, minyak, dan gas. Dari Freeport dan Newmont, dua korporasi tambang emas raksasa Amerika Serikat, diketahui bahwa setiap harinya dibuang 340 ribu ton tailing. Demikian pula dengan limbah pengeboran dan pengangkutan minyak bumi ilegal. Di perairan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta, ditemukan hampir tiap tahun tumpahan minyak mentah (tarball).
|
|
Last Updated on Friday, 24 July 2009 07:30 |
|
Read more...
|
|
|
19 Daerah di Sumut Rawan Longsor |
|
|
|
|
Written by Eti Wahyuni
|
|
Monday, 30 March 2009 02:23 |
|
Bencana longsor dan banjir menjadi ancaman utama di provinsi Sumut. Dari total wilayah Sumut yang luasnya mencapai 71.680 km2, lahan yang berpotensi terjadi longsor mencapai 46.592 km2 atau mencapai 65%. Wilayah rawan longsor ini berada di 19 daerah di Sumut. Koordinator Dewan Pakar Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumut - Nanggroe Aceh Darussalam, Jonathan I Tarigan mengatakan, penyebab utama ancaman bencana longsor maupun banjir itu karena masalah penebangan di kawasan pegunungan yang menyebabkan degradasi hutan konversi lahan yang terus menerus terjadi. "Ini sangat mengkhawatirkan. Sebab itu pemerintah, terutama pemerintah daerah harus mengambil langkah-langkah taktis dan strategis di masa sekarang, untuk mencegah bencana di masa depan," kata Jonathan I Tarigan baru-baru ini.
|
|
Last Updated on Thursday, 23 July 2009 06:59 |
|
Read more...
|
|
Perluasan Perkebunan Kelapa sawit Tidak Realistis |
|
|
|
|
Written by Eti Wahyuni
|
|
Monday, 30 March 2009 02:36 |
|
Pencanangan pemerintah untuk melakukan perluasan lahan untuk perkebunan kelapa sawit hingga 500.000 hektar per tahun terlalu ambisius dan tidak realistis. Program ini bakal terkendala dengan permasalahan ketersediaan lahan serta berbagai dampak sosial dan lingkungan yang dipastikan akan timbul.
Demikian disimpulkan dari wawancara tiga narasumber yaitu Ir Wahid Rambe Kabag Umum PTPN 4, JB Siringo-ringo Wakadis Kehutanan Sumut dan Abit Nego dari Sawit Watch - sebuah NGO yang consern menganalisa dampak sosial dan lingkungan pembangunan perkebunan kelapa sawit yang berkedudukan di Bandung-.
Ir Wahid Rambe mengatakan, saat ini ketersediaan areal untuk perkebunan kelapa sawit sangat terbatas. Dengan keterbatasan tersebut, setiap PTPN diperkirakan hanya mampu memperluas areal perkebunannya seluas 5.000 hektar per tahun. "5.000 hektar per tahun itu sudah maksimal. Di Sumut sendiri ada empat perusahaan perkebunan nasional, artinya hanya 20.000 hektar per tahun untuk perusahaan nasional," katanya.
Meskipun ditambah dengan perusahaan-perusahaan swasta, luasnya diperkirakan masih belum bisa mengimbangi target perluasan yang dinilai terlalu luas tersebut.
Program ekspansi perkebunan kelapa sawit di PTPN 4 sendiri, pada tahun 2004 telah dibebaskan lahan untuk keperluan tersebut seluas 4.000 hektar. Pada tahun ini sudah akan dilakukan penanaman seluas 2.000-3.000 hektar.
Selain itu, perusahaan ini telah membuat kesepakatan pengalihan lahan dari kepemilikan dua perusahaan swasta yaitu PT Agro Andalas Nusantara dan PT Kereta Mindo seluas 17.600 hektar kepada PTPN IV di Kecamatan Batahan, Kabupaten Madina. |
|
Last Updated on Thursday, 23 July 2009 06:59 |
|
Read more...
|
|
|
Hari Nelayan 6 April : Kemiskinan Yang Menjerat |
|
|
|
|
Written by Eti Wahyuni
|
|
Monday, 30 March 2009 02:32 |
Bocah telanjang dada di pesisir Tunggu kembalinya bapak tercinta Yang pergi tebarkan jala disana Berjuang di atas perahu tunggakan KUD
Ibu dengan kebaya yang kemarin Setia dari balik dapur menanti Suaminya yang seminggu pergi Tinggalkan rumah Tinggalkan sejengkal harapan
Langkah waktu lamban Bagai kura-kura Ikan yang datang mimpi Siang ganti malam tetap sabar Suami pun pulang, lelah
|
|
Last Updated on Thursday, 23 July 2009 06:59 |
|
Read more...
|
|
Singgih, Radio Kayu dan Kehidupan |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Friday, 27 March 2009 05:01 |
Singgih S Kartono, pembuat radio kayu dan kerajinan tangan, menganggap produknya sebagai bagian dari kehidupan berkelanjutan. Dengan konsep itulah, pembuat radio kayu di Kandangan, desa kecil di Temanggung, Jawa Tengah, ini mendapat pesanan 10.000 unit radio kayu senilai Rp 4,9 miliar dari rekanannya di Amerika Serikat.
Singgih adalah sosok yang mewakili berkembangnya kesadaran bahwa batas negara dan daya tarik kota besar makin tak relevan sebagai determinan berkembangnya industri kerajinan. Internet memungkinkan Singgih memasuki pasar dunia. ”Sayang, kapasitas produksi saya belum sebesar itu. Apalagi saya juga melayani permintaan dari Jepang yang sudah rutin sejak tiga tahun lalu. Saya minta waktu setahun untuk memenuhi pesanan itu (dari AS). Bagaimanapun saya senang, konsep saya diterima dan mendapat kepercayaan,” ujarnya, saat ditemui di ”pabrik”-nya,
|
|
Last Updated on Saturday, 28 March 2009 04:48 |
|
Read more...
|
|
|
|
|
|
|
Page 8 of 10 |